Sejarah Islam di Indonesia : Lampiran 1 : Tokoh-Tokoh Islam Indonesia

Search

Sejarah Islam di Indonesia : Lampiran 1 : Tokoh-Tokoh Islam Indonesia PDF Print E-mail
User Rating: / 5
PoorBest 
Sejarah Islam di Indonesia - Sejarah Islam di Indonesia
Written by Administrator   
Tuesday, 06 October 2009 11:57

Yang dimaksud sebagai tokoh-tokoh Islam Indonesia disini bukan saja pemuka-pemuka Islam melainkan juga orang-orang yang berjasa besar bagi umat Islam Indonesia. Jenis yang kedua ini bukan saja Bangsa Indonesia tetapi juga Bangsa Asing apalagi meningat bahwa Islam tak membedakan kebangsaan, yang penting jasa mereka.

            Sedang untuk yang pertama yaitu pemuka-pemuka Islam baik dalam Agama, maupun politik memang bukan pemuka Islam untuk seluruh muslim Indonesia apalagi yang politisi, namun walupun mereka pemimpin golongan-golongan Islam mereka layak untuk dikategorikan tokoh Islam karena peranannya dalam Islam di Indonesia.

 

1.      Sultan A. Malik Az-Zahir  II, Sultan Samudera Pasai yang terbesar (1326-348). Dikenal melalui catatan Ibn Bathuthah yang singgah di Pasai tahun 1345-1346. Ia sangat memegang teguh Agama dalam bermazhab Syafi’i dan amat sederhana serta memajukan Dakwah, berkat keluasan ilmu dan kehalusan budi rasa berdatanganlah ulama-ulama dari Arab, Mesir, Persia dan Gujarat yang selalu dijadikan penasihat Sultan. Lengkaplah Samudera Pasai menjadi pusat perdagangan dan kegiatan Islam di Nusantara.

 

2.      (Muhammad) Cheng Ho, Negarawan muslim China yang menjadi Laksamana terbesar Dinasti Ming. Tokoh yang berasal dari keluarga muslim bermazhab Hanafi ini diangkat Kaisar Yung Lo (1404-1425), sebagai Laksamana “Expedisi keseberang Lautan”. Mengadakan delapan kali Pelayaran (1405-1431) dengan armada yang terbesar di masa itu, dalam perjalanan sempat naik Haji dua kali, mendirikan Masjid di Semarang (1406), menumpas bajak laut di Palembang dan mendirikan masyarakat muslim China disana (1407) dan membawa Putra Mahkota Pasai berkunjung ke China (1412). Karena itulah ia masyhur di Nusantara dengan Gelar “Sam Poo Tay Jion” dan “Sam Poo Kong”. Jasa lainnya adalah catatan Sejarah berharga dalam “Jing Yai Sheng Lan” (laporan keadaan Laut selatan), Cheng Ho wafat dalam usia 65 tahun pada tahun 1431.

 

3.      Sultan Mansyur Syah, Sultan Malaka terbesar (1444-1477). Selain pemurah dan bijaksana Masyhur sebagai Diplomat Ulung, menjalin persahabatan dengan Siam, China, Majapahit, Berunai dan Pasai yang menjadikan Malaka sebagai pusat perdagangan. Karena ramainya, orang Arab menyebutnya “Mulaqaat” ( pertemuan segala dagang), Malaka juga menjadi pusat Dakwah Islam karena Sultan menaklukan Riau dan sebagian Minangkabau sambil diIslamkannya, kejayaan Malaka di masanya disimbolkan dengan tokoh Legendaris Laksamana Hang Tuah.

 

4.      Sunan Ampel, salah seorang Walisongo dari Jawa. Berasal dari Champa dari keluarga Bangsawan, oleh Raja Champa yang muslim diutus ke Jawa setelah terlebih dahulu naik Haji. Dalam perjalananya ke Jawa singgah dahulu di Palembang di masa Arya Damar, tiba di Pulau Jawa + tahun 1430 dan segera menyiarkan Islam diwilayah Majapahit. Di Jawa dikenal sebagai Raden Rahmat dan baru setelah diberi kedudukan di Ampel tenar sebagai “Sunan Ampel” dipusat dakwah yang mula itu, beliau mendidik kader-kader Muballigh di antaranya Sunan Bonang, Sunan Giri, Raden Patah, dan Syekh Khalifah Husin di Madura. Begitu banyak rakyat menghormatinya sehingga ketika wafat diakhir abad ke-15 M diziarahi oleh 16 Wali seluruh Jawa dan Madura.

 

5.      Sunan Giri, salah seorang Walisongo di Jawa, Putra dari Maulana Ishaq dengan Putri Raja Blambangan. Karena musibah keluarganya cerai berai, Joko Samudera diasuh Sunan Ampel dan diganti namanya menjadi Raden Paku, bersama Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) melanjutkan pendidikan ke Pasai dan Malaka. Kemudian ia membuka lembaga pendidikan dikader Muballigh di Bukit Gresik maka masyhur sebagai “Sunan Giri” (Bukit). Setelah Sunan Ampel wafat, diakui Raja Majapahit sebagai “Penguasa Masyarakat Islam” di Gresik dan Ampel, maka Giri sekejap terkenal diseluruh Nusantara. Di abad 16 wafatlah Sunan Giri dengan mewariskan suatu kerajaan Agama (Pemerintahan Agama) Giri.

 

6.      Sunan Kalijaga, salah seorang Walisongo di Jawa. Putra dari Adipati Tuban yang telah muslim, dibesarkan di lingkungan Kerajaan Majapahit dengan nama Raden Joko Said. Di masa inilah ia menerima didikan politik dan arsitektur. Karya arsitekturnya yang mengagumkan adalah “Soko Total” dari Masjid Demak. Karena beliau sebagai seorang Pribumi asli maka tak heran bila ia lebih memahami sifat dan watak rakyat Jawa, dengan inilah dikembangkan metode Dakwah Istimewa yaitu, memasukkan unsur Islam. Pada tradisi lama terutama hiburan Wayang, sebab itu Sunan Kalijaga amat lekat dihati rakyat Islam Jawa dan kehidupannya diselimuti dongeng-dongeng penghormatan. Wafat di abad 16 di Kadilangu.

 

7.      Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak. Dilahirkan dari Raja Sri Kertabhumi (1474-1478) dengan Selir China (1455). Dibesarkan secara Islam di Palembang oleh Arya Damar. Diusia 20 tahun kembali ke Jawa dan menjadi murid Sunan Ampel, oleh ayahnya dijadikan Adipati Demak. Ketika terjadi kemelut di Majapahit dengan didukung Sunan Kudus mendirikan Kesultanan Demak dan manaklukan Majapahit (1518). Karena itu ia bergelar Sultan “Al-Fattah”. Sultan Al-Fattah (yang menang) dan panembahan “Jinbun” (Sialek China Yunnan berarti “Orang Kuat”). Mengokohkan Demak sebagai kerjasama dakwah Islam dari Pualu Jawa. Sultan sekaligus wali ini wafat tahun 1518 diusia 65 tahun.

 

8.      Sultan Trenggono, Sultan Demak terbesar (1521-1526). Naik tahta setelah terjadi perebutan kekuasaan berdarah. Menjalankan strategi jitu yaitu untuk memeperkokoh kedudukannya. Ia mengawinkan Putra-Putrinya dengan tokoh-tokoh berpengaruh di antaranya Fatahillah dari Pasai, dan Adi Wijaya dari Pajang, beliau sangat benci pada Penjajah Portugis. Untuk melenyapkan musuh nomor satu ini Demak berhubungan dengan semua kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. Dakwah Islam juga diperhatikan untuk itu dipimpin Fatahillah untuk menklukan Banten dan Sunda Kelapa (1527). Gugur dalam Serangan ke Panalukan, meskipun demikian Demak di masanya merupakan satu-satunya Kerajaan Islam yang menguasai seluruh Jawa.

 

9.      Fatahillah, Muballigh dan Negarawan besar Jawa. Dibesarkan di Pasai hingga terpaksa menyingkir ke Porutgis menduduki Pasai (1521). Pindah ke Tanah Suci dan disana mendalami Agama selama  tiga tahun, lalu pulang ke Tanah Air yakni Demak. Disana berprofesi sebagai pendidik Agama bagi Kesultanan, Sultan Trenggono tertarik akan keluasan ilmunya, lalu dinikahkan dengan Putrinya dan diangkat menjadi Panglima Angkatan Perang. Dalam Expedisi di Sunda Kelapa ia digelari “Fathullah” (pemenang yang dipribumikan) menjadi Fatahillah sedangkan Portugis menyebutnya “Falatehan”. Sebagai Adipati Jawa Barat melepaskan diri dari kekuasaan Demak setelah Demak dilanda perang Saudara. Tahun 1552 mengundurkan diri dari pemerintahan dan sepenunhya mencurahkan perhatian pada Agama. Wafat tahun 1570 dan dimakamkan di Gunung Jati Cirebon.

 

10. Sultan Baabullah, Sultan Ternate terbesar (1570-1583). Ayahnya Sultan Hairun dibunuh secara licik oleh Portugis, maka ia sebagai penggantinya membalas dendam. Dengan dibantu Sultan Tidore mengusir Portugis dari Ibukota Ternate dan Ambon (1570-1575). Dengan demikian terusirlah Portugis dari Malaka. Baabullah adalah seorang “Gentleman” ia menepati janjinya untuk tetap membiarkan pemeluk Kristen, disamping itu ia meluaskan wilayah dari Mindanau di Utara, Sulawesi Utara di Barat, Sumbawa di Selatan dan Irian di Timur, juga Dakwah Islam didorongnya. Raja Buton diislamkannya, sedangkan Raja Goa masih mengimbang-imbang anjurannya untuk masuk Islam.

 

 

11. Syekh Hamzah Kansuri, Shufi dan Pujangga masyhur dari Fansur Barus, mendalami Agama di Jawa, Malaka, Persia dan Arab serta fasih pula berbahasa daerah-daerah itu. Ahli dalam ilmu Fiqh, filsafat dan sastera namun menjadi ahli Tashawwuf yang terkenal mengajarkan paham Wihdatul Wujud dari Itikad Syariah serta menyebarkan pula Thariqat Qadiriyah.untuk menunjang paham Agamanya menulis Syair-syair terkenal. Masa kegiatannya di Aceh meliputi masa pemerintahan Sultan Alauddin Riwayat Syah IV (1589-1604)hingga Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Diperkirakan Wafat diawal abad 17 di Singkel.

 

12. Syekh Syamsudin As Sumatrani, Shufi Pujangga dan Negarawan Aceh kelahiran Pasai menjadi penerus Hamzah Fansuri dalam Wihdatul Wujud dan konon pernah berguru pada Sunan Bonang di Jawa. Berkat keluasan Ilmunya menjadi kawan karib Sultan-sultan Aceh. Pengaruhnya menjadikannya sebagai “Orang Kuat“ dalam Kesultanan Aceh dengan pangkat Qadhi Malikul Adil di masa Sultan Iskandar Muda. Beliau tak mencampurkan tatanegara dengan paham mistiknya, sehingga dia disegani oleh kawan maupun lawan. Mistiknya dicetuskan dalam beberapa karya Prosa. Beliau wafat di Banda Aceh pada tahun 1630.

 

13. Khatib Tunggal, Muballigh berpengaruh nama aslinya adalah Syekh Abdul Makmur dari Kota Tengah Minangkabau. Menuntut ilmu pada Sunan Giri. Mahir dalam Fiqh, Ilmu Kalam, dan Tashawwuf namun ilmu yang ketiga tak disebarkan. Mengislamkan Raja Kutai Kertanegara (akhir abad ke-16 M), Raja Luwu (1603), Raja Gowa dan Raja Tallo (1605). Oleh Kerajaan Goa-Tallo yang telah Islam diserahi menyiarkan Islam pada Kerajaan-kerajaan Bugis yang telah taklukan. Disana beliau disebut “Dato’ri Bandang“, makamnya terdapat di Tallo.

 

14. Sultan Alauddin , Sultan Goa pertama (1593-1639). Diislamkan tahun 1605 ketika itu namanya Daeng Marabia. Amat Teguh dalam beragama disamping anti penjajah,  menolak ajakan VOC untuk menaklukan Banda (1607) serta tuntutan-tuntutan lainnya tak dilayaninya. Menaklukan sekaligus mengislamkan Kerajaan-kerajaan Bugis = Bone, Wajo, Soppeng dan Sinderen (1608-1611). Oleh karena itu setelah wafat Beliau digelari “Matinro Ri Agamana“ (wafat dalam memajukan Agamanya).

 

15. Sultan Suruyansyah, pendiri Kesultanan Banjarmasin (1595-1620). Nama kecilnya adalah Raden Samudera dari keluarga Raja Daha. Karena beliau diriwayatkan untuk menjadi Raja Daha jiwanya terancam dalam perebutan tahta menyingkir dan mendirikan Kerajaan tersendiri yaitu Banjarmasin. Dalam kedaan terdesak atas anjuran “Tangan Kanannya“ Patih masih meminta bantuan pada Jawa. Dengan bantuan itu menang perang dan sesuai perjanjian menjadikan Kesultanan. Berpolitik keras pada VOC, akibatnya pada tahan 1612 VOC menyerang dan karena penyerangan bersamaan dengan serangan Mataram, Banjarmasin hancur dan Ibukota dipindahkan ke Kayu Tangi (Martapura) wafat di Kuin.

 

16. Sultan Agung Hanyokrokusumo, Sultan mataram terbesar (1603-1645). Nama aslinya Mas Ransong. Untuk mencapai cita-citanya menguasai seluruh Jawa. Pemberontakan Pesisir Utara dipimpin Surabaya (1615-1625). Dengan Bijaksana ditempuh cara-cara agar mereka tak berontak lagi. Blambangan direbut untuk meluaskan wilayahnya ke Jawa Barat terhalang oleh VOC dan Banten. Permusuhan dengan VOC dimulai dengan memboikot beras bagi VOC di Batavia. Mengadakan hubungan dengan Portugis, Johor dan Makasar. Berpuncak dengan serangan pada Batavia (1628 dan 1629) yan berakhir dengan kekalahan walaupun berhasil menewaskan Gubernur Jenderal Coen. Beliau adalah muslim yang taat namun begitu lebih dikenal dengan Mistik Jawa dalam Karyanya Penciptaan Tarikh Saka (1633) dan Kitab Sastera Gending.

 

17. Sultan Iskandar Muda, Sultan Aceh terbesar (1607-1636). Di masa muda bernama Prakasa Alam, beliau pernah dipenjarakan karena menentang Sultan, membuktikan kepatriotannya dengan menjadi Panglima menahan serangan Portugis dalam usia amat muda (1506). Sebagai Sultan memperkuat angkatan perang untuk menghadapi dua kafir, yaitu Portugis di Malaka dan VOC di Batavia. Untuk memperkuat ketahanan Nasional menanamkan penuh Ajaran Islam pada rakyat Aceh. Menaklukan Johor, Riau, Pahang, Kedah Perak, Sumatera Barat, Jambi dan Palembang namun gagal merebut Maluku. Perdagangan maju pesat dan pendidikan rakyat dimajukan, menciptakan adat “Meukota Alam“ dan membangun Masjid Baiturrahman, pandangan luasnya terlihat dengan membunuh Putra Mahkota yang terlalu kejam.

 

18. Syekh Nuruddin Ar Raniri, ulama penegak Ajaran Ahlussunnah di Aceh. Kelahiran Ranir I Gujarat dan menimba ilmu di Mekkah, setelah luas ilmunya pergi ke Aceh (1630) dimana merajalelanya Wihdatul Wujud Syi’ah. Dipercayakan mendidik keluarga Sultan di antaranya yang kelak menjadi Sultan Iskandar Tsani dan Sultani Safiatuddin. Meninggalkan Aceh dan kembali setelah wafatnya Sultan Iskandar Muda. Oleh Sultan Iskandar Tsani (1636-1641) dan Sultani Safiatuddin (1641-1671) diangkat sebagai Qadhi Malikul Adil. Maka beliau memojokkan Wihdatul Wujud dengan membakar buku-buku tentang itu dan menegakkan kembali ajaran Ahlussunnah. Setelah mengarang Kitab Bultanusslatih kembali ke Gujarat (1657) dan wafat disana (1658).

 

19. Trunajaya, Patriot Islam gagah berani, Bangsawan Madura dimana Ayah dan Kakeknya dibunuh akibat keganasan Sunan Amangkurat I. Dendamnya didukung rakyat, maka menimbulkan Revolusi tahun 1674 yang didukung oleh pelaut Makasar dipimpin Karaeng Galesong, Ulama Giri, Sultan Banten, bahkan oleh Pangeran Anom, Putra Mahkota Mataram, yaitu Turnojoyo yang bergelar “Prabu Maduretno“ melalap Madura dan Jawa Timur dengan Basis di Kediri. Mataram terpaksa menaati semua perjanjian VOC untuk menumpas pemberontakan di Ibukota, Amangkurat I tewas dalam pelarian dan diganti Adipati Anom sebagai Amangkurat II. Dengan dibantu oleh VOC mengerahkan kekuatan besar-besaran. Akhirnya Trunojaya tertangkap di Gunung Kelud dan dihabiskan nyawanya oleh Amungkurat II (1679).

 

20. Sultan Hasanuddin, Sultan Goa (1653-1699). Nama aslinya Daeng Matawung. Menjadi Sultan ketika pertentangan Makasar dengan VOC meruncing. Tuntutan VOC untuk tak berdagang di Maluku dijawabnya “Tuntutan Tuan itu amat bertentangan dengan kehendak Allah yang mengadakan Dunia ini agar sekalian manusia berbahagia ataukah tuan menyangka Allah mengecualikan Pulau yang jauh dari tempat Tuan hanya untuk perdagangan Tuan“. Perang VOC yang didukung Raja-raja Bugis dan Buton tak terhindarkan. Dalam perang 1666-1667 dan 1668-1669, Makasar kalah dan terpaksa menyetujui Perjanjian Bongaya Hasanuddin, turun tahta (1669) dan “De Jonge Haantje Van Het Oosten“ (Ayam Jantan muda dari Timur). Beliau wafat pada tahun 1670.

 

21. Syekh Abdurrauf Syiahkuala, Shufi dan Negarawan Aceh. Lahir tahun 1592 di Singkel, mendapat didikan awal dari Pamannya, yang bernama Hamzah Fansari dilanjutkan pada Syamsuddin Sumatrani. Diusia 20 tahun, beliau mengembara di Tanah Arab dan Turki untuk mendalami berbagai Ilmu Agama. Beliau adalah Shufi dan penyebar Thariqat Syattariyah terbesar di Nusantara. Kembali ke Aceh (1661) lalu menjadi Qadhi Malikul Adil (1665). Karena kecakapannya maka jabatan itu dipegang terus menerus di masa Ratu-ratu Aceh (1641-1699). Mengadakan pembaharuan di Lapangan Tatanegara pendukung pemerintahan ini wafat tahun 1695 di Aceh.

 

22. Untung Surapati, Patriot Islam gagah berani. Asalnya adalah Bangsawan asal Bali yang kalah perang, lalu dijadikan Budak di Batavia. Menjadi Opsir VOC dengan pangkat Letnan. Semangat anti penjajahnya timbul bersamaan dengan masuk Islam. Mulai mengadakan gerilya tahun 1683 perlawanannya didukung sultan Cirebon dan disimpatikan oleh Amangkurat II. Mengobarkan perang di Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan gelar “Pangeran Wiroguno“ menentang VOC. Amangkurat III (1703-1705) turut perang dipihaknya. Dalam pertempuran di Bangil, Surapati luka parah dan akhirnya wafat di Istananya di Pasuruan. Perlawanannya diteruskan oleh pengikutnya.

 

23. Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Banten (1651-1682) yang bernama Abdul Fatah seorang Raja yang Shaleh dan bercita-cita tinggi. Bandar Banten dibuka seluas-luasnya untuk semua pedagang dalam rangka mematahkan usaha monopoli VOC. Politiknya pada VOC amat keras, maka selalu mendukung perlawanan terhadap VOC. Tahun 1671 menyerahkan sebagian kekuasaannya pada Putranya Sultan Haji. Ia sendiri bersemayam di Tirtayasa sambil memperdalam Agama. Akibat perbedaan sikap politik pada VOC terjadi pertentangan dengan Sultan Haji yang berpolitik lunak. Sultan Haji meminta bantuan VOC untuk menggempur ayahnya yang didukung penasihat Syekh Yusuf (1682). Akhirnya keduanya tertangkap pada tahun 1684. Beliau wafat dipenjara Batavia.

 

24. Syekh Yusuf Tajul Khalwati  (1629-1699). Ulama dan patriot dari Makasar. Dalam perjalanan menimbang Ilmu singgah di Banten dan menjadi sahabat Putra Mahkota Abdul Fatah (1645). Berguru pada Syekh Nuruddin Ar-Raniri di Aceh. Dalam belajar Tashawwuf di Arab, mendapat Ijazah + 5 Thariqat. Lalu kembali ke Tanah Air, ke Banten bukan ke Makasar karena VOC telah berkuasa. Oleh sahabatnya Sultan Ageng diangkat menjadi Mufti Banten. Turut berjuang dipihak Sultan Ageng ketika berperang dengan Sultan Haji tertangkap dan diasingkan ke Ceyln (1683). Karena disini ia lebih terkenal maka dipindah VOC ke Cope Town (1694) hingga wafatnya.

 

25. Syarif Abdurrahman, pendiri Kesultanan Pontianak. Putra dari Muballigh Syarif Husin dengan Putri Raja Matan. Diambil menantu oleh Raja Menpawa. Mewarisi darah pelaut, maka beliau gemar berlayar dengan kapalnya “Tihang Sambung“ menyinggahi Sulawesi, Jawa dan Sulawesi. Menghajar kapal-kapal Portugis di Kalimantan Timur yang hendak merampas kapal-kapal Bumiputra (1770-1771). Pada tanggal 7 Januari 1772 mendirikan kota Pontianak lalu diangkat sebagai Sultannya (1779) menjadikan kesultanan terbesar di Kalimantan Barat dengan menaklukan Menpawa dan Kesultanan Sukadana (1787).

 

26. Syekh Mohammad Arsyad Banjar (1703-1808) ulama Masyhur Banjarmasin Kecerdasannya di masa kecil menyebabkan Sultan Tahlilillah (1700-1745) tertarik padanya dan membesarkannya di Istana, ke Mekkah untuk menuntut ilmu disana selama 3 tahun. Menjadi seorang ulama yang sukar dicari Taranya. Menjadi seorang Shufi Thariqat Sammaniyah kembali ke Banjarmasin dan langsung menjadi Mufti Kerajaan di masa Sultan Tahnidillah (1778-1808). Mendirikan pesantren di kampung Dalam Pagar. Berjasa memurnikan ajaran Islam dari faham-faham sesat di Banjarmasin.

 

27. Sutan Nuku, Sultan Tidore (1797-1805). Ayahnya dan kakaknya diasingkan oleh Belanda di Batavia (1779) diganti Patra Alam. Rakyat memilih Nuku sebagai pemimpinnya, tahun 1780 tentara Patra Alam menyerbu rumahnya, tapi Nuku lolos ke Halmahera. Disini ia berhasil menggulingkan Patra Alam dan menjadi Sultan. Seorang diplomat ulung, dengan diplomasinya berhasil mengadu domba antara Inggris dan Belanda. Akhirnya berhasil mengusir Belanda dari Ibukota Tidore yaitu Soa Siu (20 Juli 1801). Akibat kegemilangannya itu Belanda berkuasa lagi setelah wafatnya, mengajarkan Rakyat Tidore agar tabuh menyebut pahlawan itu.

 

28. Sultan Makhmud Baddarudin II, Sultan Palembang (1805-1814) berpolitik keras pada kolonialis. November 1811 menyerbu Loji Belanda. Mula-mula berhubungan dengan Inggris tapi setelah Inggris berkuasa (1811-1816 ) timbul bentrok antara keduanya. Pecah perang dengan Inggris (April 1812) namun kalah dan terpaksa bergerilya dipedalaman. Inggris mengangkat adiknya sebagai Sultan dengan gelar “Sultan Najamudin II” yang lalu bergabung dengan kakaknya setelah diturunkan oleh Belanda (1816). Selama 1819-1821 Belanda menggempur Palembang yang menyebabkan kedua bersaudara ini menyerah. Sultan Badarrudin diasingkan ke Ternate hingga wafatnya.

 

29. Tuanku Imam Bonjol (1772-1864) tokoh Paderi di Minang. Turut terpengaruh paham Paderi, maka berusaha melaksanakannya di Padang Lawas, karena terusir mendirikan markas di Bonjol menjadi pemimpin cabang Bonjol yang tergabung dalam “Persekutuan Tuanku Nan Salapan”dipimpin Tuanku Nan Renceh”. Ketika Tuanku Nan Renceh wafat (1832) ia menjadi penggantinya. Memindahkan pusat perlawanan ke Bonjol. Setelah berhasil menahan serangan-serangan Belanda Bonjol akhirnya jatuh (1877) namun beliau lolos sebelum tertangkap (1878). Mula-mula ditahan di Bukit Tinggi lalu ke Ambon, dan akhirnya beliau wafat di Sulawesi Utara.

 

30. Pangeran Diponegoro (1785-1855) Patriot Islam Ulung. Putra dari Sultan Yogyakarta ke 4 dengan nama Ontowiryo seorang Negarawan yang Shaleh dan membela kepentingan rakyat. Diangkat menjadi wakil raja yang masih kecil membenci sepak terjang Belanda yang amoral. Beliau membebaskan rakyat dari pajak tanah. Patih Danurejo V yang antek Belanda menghasut dirinya. Dengan sengaja Belanda membuat jalan yang melanggar wilayahnya. Maka pecah perang Diponegoro (1825-1830) yang didukung sekalian rakyat, ulama dan sebagian Bangsawan. Akibat perbedaan pendapat dengan panglimanya Sentot Ali Basyah dan penasehatnya Kyai Maja perlawananya makin kecil. Ditangkap secara licik dalam perundingan di Magelang (28 Maret 1830). Ditahan di Benteng Manado lalu dipindahkan ke Makasar hingga wafatnya.

 

31. Raja Ali Haji (1809-1870) Sasterawan Melayu Termashur. Dilahirkan di Pulau Penyengat Riau dari keluarga Bangsawan Kesultanan Lingga-Riau. Mendalami Agama di Mekkah dan Mesir. Pulang ke Tanah Air sebagai seorang ulama, disamping aktif dalam pemerintahan Lingga-Riau. Seorang Sasterawan ulung menciptakan Gutindam Dua Belas, Syair Abdul Muluk, Silsilah Melayu dan Bugis, dan sekalian Raja-rajanya serta karya sejarah Masyhur Tuhfat An-Natis yang ditulisnya sejak tahun 1965 dan hingga wafatnya belum selesai. Juga seorang ahli Bahasa yang menulis kamus Tatabahasa Melayu-Arab. Jasa-jasanya tak terhitung bagi kesusasteraan Melayu dizaman Peralihan.

 

32. Pangeran Antasari (1804-1862) Patriot Islam ulung. Seorang Bangsawan Tinggi Banjar yang  membenci Belanda  yang makin berkuasa di Banjar. Bersama Pangeran Hidayat meletuskan Perang Banjar tahun 1857. tahun 1862 Pangeran Hidayat menyerah dan Belanda menghapuskan Kesultanan (1859). Maka beliau mendirikan kerajaan tandingan di Tewah dengan beliau sebagai Sultan bergelar Panembahan Amiruddin (14 Maret 1862). Tak lama kemudian terserang wabah cacar dan akhirnya wafat di Benteng pertahanan Bayan Begog pada 11 Oktober 1862.

 

33. Sultan Thoha Sariuddin, Sultan Jambi (1858). Putra Sultan Fakhruddin yang teguh bergama dan sama-sama anti penjajah. Dalam perang, ayahnya kalah pada Belanda dan Jambi pun kehilangan kedaulatannya (1833). Tahun 1841 menjadi Wazir yang menentang kekuasaan Belanda. Tak mengakui perjanjian pada tahun 1833 hingga timbul pergolakan. Menjadi sultan (1858) lalu Belanda menyerang Kraton dan Mema’zulkannya (25 September 1858). Sultan menyingkir ke Muara Tambesi, rakyat Jambi tetap mengakuinya sebagai Sultan yang asli. Bujukan-bujukan Belanda tak dihiraukan walaupun keluarga dan  pembantunya telah menyerah beliua tetap bertahan, akhirnya patriot ini gugur dalam pertempuran diusia 88 tahun.  

 

34. Teungku Chi’ di Tiro (1836-1891) ulama patriot Aceh. Namanya adalah Syekh Muhammad Saman yang luas ilmunya dan amat disegani. Dalam perang Aceh menyatakan Perang Salib (1881), memimpin barisan ulama sebagai Panglima menuju kancah pertempuran di Aceh Barat. Dengan gemilang merebut benteng-benteng Belanda hingga jarak dengan Kota Raja yang dikuasai musuh tinggal beberapa KM saja. Dalam penyerangan ke Pulau Breueh, Beliau teracun oleh pengkhianat. Ahirnya patriot ini wafat di Benteng dan dimakamkan di Murere (Januairi 1891).

 

35. Panglima Polem Muhammad Daud, Patriot Aceh. Seorang bangsawan tinggi yang mendapat didikan Agama dari Teungku Chi’di Tiro. Memimpin tentara kesultanan setelah Kotaraja jatuh dan Sultan wafat (1874). Mendampingi Sultan yang masih kecil dalam pelariannya, diburu terus oleh pasukan khusus “Morsose”, selama 30 tahun pindah-pindah Benteng yang akhirnya Sultan menyerah pada tahun 1981. Kedudukannya makin terdesak karena benteng terkuatnya di Gayo direbut pada tahun 1903, dengan pancingan Ibu dan Istrinya yang telah tertangkap Beliau menyerah di Loksemauwe pada September 1903. Setelah Beribadah Haji beliau memusatkan perhatiannya pada pendidikan Islam. Tokoh ini digelari “Orang Besar berbadan Kecil”. Beliau  wafat pada tanggal 30 Juni 1941.

 

36. Syekh Ahmad Khatib (1852-1915) Ulama besar Minangkabau kelahiran Bukit Tinggi. Tahun 1877 berangkat ke Tanah Suci untuk menuntut ilmu pada ulama-ulama termasyhur. Karena keluasan ilmunya beliau diperkenankan untuk mengajar di Masjidil Haram. Disamping itu budi pekertinya yang luhur menarik hati Syarif (Penguasa) Mekkah, maka dijadikannya Imam Mazhab Syafi’i di Masjidil Haram juga sebagai Khatib.Beliau adalah satu-satunya ulama Indonesia yang mendapat derajat tertinggi di Tanah Suci, hampir semua ulama Indonesia yang belajar di Mekkah menjadi muridnya. Kesultanan Turki memberi Title “Bey Tunis” (Doctor Honoris Causa) karena karya-karya tulisnya yang bermutu tinggi.

 

37. KH. Hasyim Asy’ari (1871-1947) ulama dan tokoh pergerakan Islam Indonesia. Kelahiran Jombang dari keluarga Kyai pesantren terkenal. Digelari “Hadratus Syekh” (Tuan Guru Besar). Berkat keuletan dan kerajinanya menjadi ulama diusia yang amat muda, masa mudanya dihabiskan dengan belajar dari Pesantren ke Pesantren di seluruh Jawa. Mneruskan belajar di Tanah Suci selama 7 tahun, kembali ke Jawa tahun 1890 dan langsung mendirikan Pesantren Tebu Ireng (1899) beliau adalah tergolong pembela golongan Konservatif den tradisional dari serangan golongan Modernis. Mendirikan Janiyah NU tahun 1926. sempat ditahan 5 bulan oleh Jepang karena disangka berproganda anti Jepang, malah oleh Jepang diangkat sebagai ketua Shumubu (Jawatan Agama) dan Rois’Aam Masyumi. Menyerukan Resolusi Jihad (1945) dan wafat didalam suasana Agresi Belanda (25 Juli 1947).

 

38. Haji Abdullah Ahmad (1878-1933) tokoh paling muda Minangkabau, tokoh kelahiran Padang Panjang ini ketika berguru pada Syekh Akhmad Khatib di Mekkah terpengaruh Modernisme. Sepulangnya di Tanah Air beliau langsung mendirikan Sekolah Modern pertama di Minang yaitu “Adabiyah“ (1899) disusul menerbitkan surat kabar pertama di Minang “Almunir“ (1911). Kekayaannya terkuras pada majalah itu, sehingga nyaris melarat jika tak dibantu oleh rekan-rekan sepahamnya. Mendirikan Persatuan Guru-Guru Agama Islam  (PGAI) pada tahun 1920 menjadi ketuanya.  Bersama Haji Rasul mendapat title “Doctor Fiddin” (Dr Hc) oleh Universitas Al-Azhar di Khairo. Beliau wafat pada November 1933 di Padang.

 

39. Haji Abdulkarim Amrullah (1879-1945), tokoh kaum muda Minangkabau bergelar “Haji Rasul” telah menguasai berbagai ilmu  Agama sebelum meneruskan pendidikan di Mekkah selama 4 tahun. Tahun 1898 beliau pulang ke Tanah Air dan langsung mengajar di Surau Jembatan Besi di Padang yang terkenal. Setelah pergi ke tanah suci kedua kali beliau membantu menerbitkan Al Munir (1912). Beperan besar dalam pendirian Thawalib Sumatera dan menjadi gurunya hingga tahun 1922. tahun 1925 beliau mendirikan Cabang Muhammadiyah, pada tahun 1926 beliau mengahadiri Muktamar Khilafah di Khairo dimana diberi title Dr.Hc. walau tak pernah terjun kepolitik, namun selalu menentang Penjajah Belanda. Akibatnya beliau ditahan oleh Belanda di Sukabumi (1941-1942). Di zaman Jepang diangkat menjadi guru, namun Seikerei (Sujud pada Tenmo di Tokyo) namun dengan tegas ditolaknya. Beliau wafat pada tanggal 2 Juni 1945 di Jakarta.

 

40. KH.Ahmad Dahlan (1868-1923), tokoh Pergerakan Pendidikan Islam Modern. Seorang Saudagar besar Yogya yang terkenal pemurah setelah berilmu di Mekkah menjadi guru Agama dan Khatib Masjid Jami’Yogyakarta. Dengan kemahiran ilmu Falak (Hisab) membenarkan kiblat masjid-masjid di Yogya dengan restu penuh dari Sultan. Pengaruh Modernisme tampak jelas dengan mendirikan perguruan Muhammadiyah (1912), beliau juga memajukan wanita dan pemuda dengan membentuk bagian wanita dan kepanduan, memiliki hubungan yang baik dengan Organisasi Pergerakan khususnya SI dan Budi Utomo. Beliau wafat pada tanggal 23 Februari 1923 di Yogyakarta.

 

41. Haji Omar Said Cokroaminoto (1882-1934) tokoh ulama Pergerakkan Rakyat Indonesia. Putra Wedana Madiun mendapat pendidikan Pangreh Praja di Magelang dan Pendidikan Umum di Surabaya, disamping bekerja pada Instansi Pemerintah. Membuka Kost dirumahnya, dimana dihuni oleh pemuda-pemuda Soekarno, Alimin, Muso, dll. Menjadi Komisaris Serikat Islam (1911) dan menjadi Ketua SI tahun 1914. dibawah kepemimpinannya SI maju pesat dan menjadi Organisasi Politik terbesar. Beliau adalah seorang Ahli Pidato (Orator) ulung dan Kharismatis menjadi Anggota Volksraad (1918). Rakyat pedesaan menganggapnya sebagai Erucakra (Ratu Adil) dan kaum pergerakkan beranggapan bahwa beliau akan menjadi Presiden Indonesia. Pernah ditahan karena Propagandanya, mengalami pasang surut Serikat Islam dan wafat pada tanggal 17 Desember 1934, setelah sakit selama 1 tahun.

 

42. KH Mas Mansyur (1897-1946) Ulama Patriot, tokoh  kelahiran Surabaya ini menuntut ilmu di Mekkah (1908-1912) dan Universitas Al-Azhar (1912-1914) terkenal sebagai murid yang cerdas. Di Tanah Air aktif Pergerakkan Nasional. Menjadi pengurus Serikat Islam hingga SI menjatuhkan disiplin partai pada Muhammadiyah (1926), beliau memilih Muhammadiyah. Bersama Cokroaminoto ikut kongres Alam Islami di Mekkah (1926), menjadi ketua Muhammadiyah (Desember 1938) dan turut mendirikan Partai Islam Indonesia. Di masa penjajahan Jepang menjadi 4 serangkai dan Ketua MIAI, untuk itu beliau mengundurkan diri dari ketua Muhammadiyah (1943). Tertangkap Belanda dan wafat di tahanan (12 April 1946).

 

43. H. Agus Salaim (1884-1954) Tokoh Pergerakkan Nasional dilahirkan di Bukit Tinggi dan bekerja pada Konsultan Belanda di Jeddah (1911-1966) dimana ia juga memperdalam Agama. Keluar dari Pegawai Negeri dan masuk SI. Disamping itu beliau aktif dalam Dunia Jurnalistik. Dalam SI mewakili Golongan Islam untuk mengeluarkan Kaum Komunis (1921) menjadi Anggota Volksraad (1921-1924). Tahun 1930 turut dalam Kongres Buruh Internasional di Jenawa. Pengganti kedudukan Cokroaminoto hingga ia keluar dari SI dan mendirikan Barisan pengedar (1936). Turut menandatangani piagam Jakarta dan berturut-turut menjadi Menteri Luar Negeri (1946-1947). Anggota DPP Masyumi yang merupakan Diplomat ulung mengadakan misi untuk mengakui RI oleh negara-negara Arab yang sukses. Setelah pengakuan Kedaulatan aktif dibidang pendidikan “The Grand Old Man“, ini wafat pada tahun 1954.

 

44. KH. Abdul Wahid Hasyim (1941-1953), tokoh Pergerakkan Nasional. Putra dari Hadratus Syekh yang lahir di Jombang. Seorang Ulama Tradisional yang berpikiran Modern dengan mendirikan Sekolah Modern, Madrasah Nizamyah (1935). Giat dalam NU dan menjadi ketua pengurus besar (1942). Pendiri dan ketua MIAI dan menjadi wakil ketua Masyumi. Turut menandatangani piagam Jakarta. Menjabat Menteri Negara (1945-1946) dan Mentri Agama dalam 3 kabinet. Sebagai Mentri Agama beliau memajukan Pendidikan Islam. Menjadi Ketua Liga Muslimin Indonesia (1952) hingga wafat kecelakaan pada 19 April 1953.

 

Who's Online

We have 2 guests online

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday3
mod_vvisit_counterYesterday50
mod_vvisit_counterThis week53
mod_vvisit_counterLast week263
mod_vvisit_counterThis month1045
mod_vvisit_counterLast month917
mod_vvisit_counterAll days39160

Online (20 minutes ago): 2
Your IP: 54.234.217.88
,
Today: Aug 31, 2014
Visitors Counter

Created by :

Pandji Kiansantang
Since 6 Oct 2009

 

Website :
PandjiKiansantang.Com

Email :
pkiansantang@gmail.com

Twitter :
@inspirasipanji

 

 

Other Websites

 

>> PandjiKiansantang.com <<
Website Tulisan Inspirasi
Pandji Kiansantang


>> Proklamasi1945.com <<
Segala hal tentang Proklamasi
Kemerdekaan dan Revolusi
Indonesia 1945-1950


>> Qirsa.com <<
Dakwah Online "Qalbu Islami
Karyawan Summarecon"

 

>> CCSR.cc <<
Kreasi Tim Corporate Culture
dan Corporate Social
Responsibility


>> WonderfulClub.info <<
Wadah Klub-klub Hoby
Karyawan Summarecon

>> Pandji.info <<
Media Komunikasi Keluarga
Besar Pandjiwinata





Powered by Eka Riyadi.